Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebijakan Sebagai Pemimpin

Oleh: Charles

Tujuan Pembelajaran Khusus:

1.     CGP membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan beraneka cara dan media.

2.     CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.

Berikut ini Koneksi Antar materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai kebajikan sebagai Pemimpin

·       Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Patrap Triloka merupakan semboyan dikemukan Ki Hadjar Dewantara yang berbunyi, "Ing ngarso sung tulodho. Ing madyo mangun karso. Tut wuri handayani" Semboyan ini berasal dari bahasa jawa yang memiliki makna filosofis sebagai pedoman bagi guru ketika mengajar. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, maknanya kurang lebih, "Di depan, seorang guru harus bisa menjadi teladan. Di tengah, seorang guru harus bisa memberikan ide. Di belakang, seorang guru harus bisa memberikan dorongan". Patrap Triloka ini sangat berpegaruh bagi guru saat mengambil keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Ing ngarso sung tulodho berarti setiap keputusan yang diambil oleh guru haruslah mampu diteladani oleh peserta didik, sehingga ketika guru membuat sebuah keputusan ia harus yakin keputusan yang ia buat tidak berdampak buruk bagi muridnya. Keputusan yang diambil harus mampu menjadi acuan bagi peserta didik andai mereka mengalami hal yang serupa pada kehidupan peribadinya. Sekolah adalah 'institusi moral' yang dirancang untuk membentuk karakter para warganya. Seorang pemimpin di sekolah tersebut akan menghadapi situasi di mana mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah. Ing madyo mangun karso maksudnya adalah keputusan yang diambil oleh guru harus mampu menginspirasi bagi peserta didik. Dan Tut wuri handayani berarti keputusan yang diambil oleh peserta didik harus mampu menjadi motivasi peserta didik agar menjadi lebih baik. Dengan adanya pratap triloka ini seorang guru kembali disadarkan betapa pentingnya posisinya dimata peserta didik. Setiap keputusan yang di buat guru harus berdampak secara langsung kepada murid. Guru harus memahami konsep dasar pengambilan keputusan agar tidak salah dalam mengambil keputusan jangan sampai karena keputusan yang tidak tepat sehingga menjadi kesalahan yang berkepanjangan. Seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu mengidentifikasi dan menganalisis kasus yang dihadapi apakah bujukan moral atau dilema etika. Bujukan moral adalah benar lawan salah sedangkan dilema etika adalah benar lawan benar. Kasus dilema etika harus mampu dianalisis berdasarkan 3 prinsip yaitu  berpikir hasil akhir (end-based thinking), berbasis peraturan (rule-based thinking) dan berbasis rasa peduli (care-based thinking), 4 paradigma yaitu Individu lawan masyarakat (individual vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) dan jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Lalu yang terakhir melalui 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan yaitu, mengenali nilai-nilai yang bertentangan, menentukan siapa yang terlibat, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan, pengujian benar atau salah, pengujian paradigma benar lawan benar, melakukan prinsip resolusi, investigasi opsi trilema, buat keputusan lalu refleksikan. Pengambilan keputusan yang tepat akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusid dan aman bagi murid.

·       Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

 

Keputusan yang kita ambil sebagai seorang pemimpin/guru tentu harus mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan yang ada dalam diri. Pengambilan keputusan yang tepat dapat menumbuhkan dan membangun motivasi murid untuk tumbuh dan berkembang. Sebagai guru juga memberikan dukungan penuh terhadap usaha murid untuk terus menjadi lebih baik sebagai makhluk yang bermanfaat bagi orang lain. Guru harus memiliki kecakapan agar dapat menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, dan aman serta keterampilan mengelola emosi dan melakukan coaching. Keputusan yang diambil oleh guru harus arif dan bijaksana yang berpihak pada murid. Sebagai guru tentu kita sering menemukan murid yang bermasalah di kelas, kemampuan menjadi seorang coach akan sangat dibutuhkan dalam hal ini, guru dapat berperan sebagai motivator dan memberi dukungan penuh atas keputusan yang diambil murid.

 

·       Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Setelah saya mempelajari eksplorasi konsep dan ruang kolaborasi serta elaborasi pemahaman pada modul 3.1 dengan fasilitator dan instruktur semakin menambah wawasan saya tentang materi pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin dan pengujian keputusan. Yang jadi pertanyaan saya adalah apakah tantangan yang dihadapi untuk pengambilan keputusan terhadap kasus pada dilema etika bisa saya laksanakan dengan tepat dengan berdasarkan pada nilai-nilai kebenaran, berpihak pada murid dan bertanggung jawab. Tetapi saya yakin dan percaya dengan keputusan yang diambil tetap harus mampu menjadi pengajaran yang memerdekakan. Meskipun setiap keputusan yang diambil harus mampu membuat dampak bagi peserta didik, sehingga mampu menciptakan sesuatu yang juga berdampak baik pada kehidupannya, dan lingkungannya. Sebelum mengambil keputusan tentu kita melakukan studi kasus dengan menggunakan metode coaching. Salah satu model coaching adalah model TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab). Model coaching ini, dapat digunakan seorang guru dalam menuntun murid menemukan potensi yang dimilikinya. Hal ini dapat memanfaat cara komunikasi positif melalui pertanyaan yang reflektif, dimana akan menstimulasi murid melakukan metakognisi. Pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga harus mampu mengali potensi murid untuk berpikir secara kritis dan mendalam. Sehingga, murid dapat mengembangkan potensinya secara optimal dan mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Melalui coaching keputusan yang telah diambil dapat dikaji dengan merefleksi kembali apa yang sudah diputuskan, karena keputusan yang diambil sebagai pemimpin pembelajaran akan mempengaruhi keberhasilan masa depan murid.

 

·       Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Guru harus memiliki kemampuan dalam mengelola dan menyadari sosial emosional yang sangat mempengaruhi pengambilan keputusan. Dalam mengambil keputusan kita sebagai guru jangan sampai emosional, namun harus menyadari eputusan wajib berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan, berpihak kepada murid dan bertanggung jawab. Sebagai guru kita dapat membedakan dilema etika atau bujukan moral. Pengelolaan sosial emosional akan menumbuhkan rasa empati dan simpati bagi seorang guru. Dengan simpati dan empati kita dapat merasakan apa yang peserta didik alami, dan kita dapat mengidentifikasi permasalahan dengan bijaksana, sehingga dalam pengambilan keputusan kita dapat menggiring murid menciptakan inovasi dan kreatif sebagai alternatif solusi dalam setiap pengambilan keputusan. Dimana keputusan yang diambil menggunakan 4 paradigma dilema etika yaitu individu lawan masyarakat, rasa keadilan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan dan jangka pendek lawan jangka panjang. Pengambilan keputusan juga berpegang pada 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu prinsip berpikir berbasis hasil akhir (end-based thinking), prinsip berpikir berbasis  peraturan (rule-based thinking), dan prinsip berbasis rasa peduli (care-based thinking) serta dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

 

·       Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Dalam kenyataan bahwa kita tidak akan terlepas dari masalah, entah itu dilema etika maupun bujukan moral. Terlebih kehidupan di lingkungan sekolah, karena berhadapan dengan orang banyak dan dari latar belakang yang beragam. Seorang guru memerlukan keterampilan dalam menjalin hubungan sosial dan mengambil sebuah keputusan. Melalui pendidikan guru penggerak ini saya bisa belajar ilmu tentang bagaimana mengambil keputusan yang tepat. Oleh karena itu, ketika saya harus menghadapi masalah dan diminta mengambil suatu keputusan, saya menerapak  4 paradigma pengambilan keputusa , 3 prinsip pemgambilan keputusan  dan 9 langkah pengambilan pengujian keputusan. Saya akan mengidentifikasikan dan menganalisis nilai-nilai kebajikan mana yang bertentangan, kemudian menelususri siapa yang terlibat, serta akan melakukan pengujian benar lawan salah, benar lawan benar, melakukan prinsip resolusi dengan menggunakan 3 prinsip pengambilan keputusan, akan menginvestigasi apakah unsur opsi trilema, baru mengambil keputusan, dan yang terakhir mengujinya dengan melihat lagi dan merefleksi keputusan yang diambil.

 

·       Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Sebagai seorang guru akan selalu bersentuhan dengan pengambilan keputusan, suka atau tidak suka. Sebuah pengambilan keputusan diharapkan mampu membuat kondisi lingkungan yang positif, aman, nyaman, dan kondusif. Pengambilan keputusan yang tepat tentu pedoman 9 langkah pengambilan pengujian keputusan dan sesuai instrumen pengambilan keputusan yang berdampak pada murid di sekolah. Langkah pertama, guru harus dapat membedakan apakah kasus yang dihadapi merupakan dilema etika atau bujukan moral. Jika dilema etika, maka dilakukan pengujian selanjutnya, agar sampai pada pengambilan dan pengujian keputusan yang telah diambil. Kemudian insturmen yang harus dipegang dalam mengambil keputusan adalah sembilan langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan, dimana didalamnya terkandung nilai-nilai universal, 4 paradigma pengambilan keputusan, serta 3 prinsip pengambilan keputusan. Sehingga pada akhirnya peran guru sebgaai pemimpin pembelajaran akan mampu menciptakan lingkungan positif, kondusif, aman, dan nyaman untuk murid.

 

·       Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Setiap orang pasti akan menemui masalah dalam kehidupannya. Guru salah satunya peran yang menemui masalah dalam kehidupannya baik masalah pribadi maupun masalah dalam lingkungan rumah atau sekolah. Setiap guru pasti akan berbeda dalam menangani masalahnya, dimana guru satu dengan yang lainnya akan berbeda dalam memandang masalah yang dihadapi, tergantung bagaiamana mengatasi masalah yang dihadapinya. Dalam pengambilan keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan, serta berpihak pada murid. Tentu keterampilan menganalisis setiap kasus yang dialami akan berpengaruh dengan pengambilan keputusan terhadap kasus yang dihadapi. Guru sebagai pemimpin pembelajaran tidak boleh mengambil keputusan tanpa memperhatikan data-data yang valid, karena dapat mengakibatkan pengambilan keputusan yang salah. Guru harus mampu membedakan apakah bernilai benar lawan benar atau bernilai benar lawan salah (sebuah dilema etika atau bujukan moral). Pengambilan keputusan harus dilakukan jika kasus merupakan dilema etika, tentu dengan berpegang teguh pada instrumen yang benar. Pengambilan keputusan terkadang sulit dilakukan karena terbentur dengan perubahan paradigma atau budaya yang berlaku di lingkungan sekolah. Pengambilan keputusan harus dengan kehati-hatian karena melibatkan banyak pihak/ pihak yang terlibat. Diisadari atau tidak sebuah keputuasn tidak dapat mengakomodir kepentingan semuanya, bahkan mungkin akan merugikan pihak tertentu. Pengetahuan dan keterampilan dalam pengambilan keputusan yang berpihak pada murid belum secara maksimal karena minimnya kemampuan akan mempengaruhi keputusan yang akan  diambil.

 

·       Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Filosofi Pemikiran Kihajar Dewantara menitik beratkan kepada menghamba pada anak. Sehingga anak diberikan kemerdekaan dalam proses belajarnya, kita sebagai pendidik bertugas untuk menuntun dan memuliakan murid. Perubahan paradigma tentang pendidikan yang memuliakan murid tentu mempengaruhi pola pengajaran di kelas. Guru selama ini menuntut terlalu banyak karena tuntutan dari kurikulum yang luas, akan berubah menjadi menuntun murid dalam mengambil perannya di kelas. Merdeka belajar intinya belajar yang berpihak pada murid, yang memperhatikan kebutuhan belajar murid. Oleh karena itu, keputusan yang diambil sesuai dengan filosofi tersebut mengisyaratkan menemani murid sesuai kemampuan atau kodrat alam maupun zamannya. Kehadiran guru di dalam kelas, mengajak murid menyadari potensinya, menambah kepercayaan dirinya, menjadi temannya, serta menggali potensi terbaiknya. Murid berani mengemukakan pendapatnya, mendesain tugas projek sesuai bakatnya, mengambil peran aktif di kelas, serta mampu mengambil keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan. Sehingga, tujuan yang ingin dicapai yaitu keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya akan dapat terwujud.

·       Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat memberikan pembelajaran yang sesuai denga kebutuhan belajarnya dan menuntun murid dalam mengembangkan potensi yang dimiliki. Dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran harus berpihak pada murid, Bagaimana seoarng guru harus memperhatikan apa yang dibutuhkan murid. Suatu keputusan yang kita ambil sudah mempertimbangkan kebutuhan murid maka dapat dipastikan murid mampu menggali potensi yang ada dalam dirinya. Apabila keputusan yang diambil berpihak pada murid, memperhatikan kebutuhan murid, akan dapat menambah rasa percaya diri murid, ketenangan batin murid dalam menuntut ilmu, dan pada akhirnya akan berhasil menghadapi setiap tantangan di masa depannya, tidak mudah menyerah, bijaksana, serta menemukan kesuksesan yang dapat bermanfaat bagi orang banyak.

 

 

·       Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Banyak hal yang dapat dipelajari pada modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Saya belajar tentang cara - cara pengambilan keputusan yang tepat. Dimana keputusan yang diambil berpihak pada murid, bertanggung jawab yang sesuai dengan nilai – nilai kebajikan universal. Dalam pengambilan keputusan harus memperhatikan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan keputusan. Dalam menghadapi masalah jangan terburu buru dalam memutuskannya hendaknya diperlukan kesadaran penuh (mindfulness), agar dapat berpikir jernih dan mengkaji berbagai sudut yang dapat dipertimbangkan sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal. Keterampilan coaching dan kecerdasan emosional akan sangat menunjang keberhasilan mengatasi masalah yang dihadapi, sehingga keputusan yang diambil akan dapat dipertanggung jawabkan.  Keterampilan dalam mencermati masalah, menganalisis kasus jangan sampai terjebak dengan bujukan moral, dan harus teliti dalam menentukan langkah pengambilan keputusan dari berbagai situasi dan kondisi yang ditemui. Hal ini esuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara yang selaku guru dapat menuntun murid sesuai kodratnya masing-masing agar mereka mencapai keselamatan yang setinggi-tingginya. Kesimpulan yang didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah : Pengambilan keputusan adalah suatu keterampilan atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being). Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila. Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.

 

 

·       Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Pemahaman saya dari modul 3.1 ini adalah Ada 4 paradigma pengambilan keputusan Individu lawan masyarakat, kebenaran lawan kesetiaan, keadilan lawan belas kasihan, dan Jangka Pendek lawan jangka panjang. Ada 3 prinsip mengambil keputusan berfikir berbasis hasil akhir (end-based thinking),  berfikir berbasi aturan (rule-based thinking), dan berfikir berbasis rasa peduli (care-base thinking) serta 9 tahapaan pengambilan dan pengujian keputusan. Yaitu Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan, menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini, Pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulias, uji instuisi, uji publikasi, uji panutan/idola) Pengujian paradigma benar atau salah, Prinsip pengambilan keputusan, Investigasi tri lema, Buat keputusan meninjau kembali keputusan dan refleksikan Hal-hal yang menurut saya diluar dugaan adalah ternyata dalam pengambilan keputusan bukan hanya berdasarkan sesuai pemikiran saja namun perlu melihat 4 paradigma, 3 prinsip dan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Selama ini saya berpikir terlalu cepat dalam mengambil keputusan, sehingga keputusan yang diambil tidak merugikan pihak lain dan serta membuat kondisi lingkungan yang positif, aman, nyaman dan komdusif yang berpihak pada muird.

 

·       Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Saya pernah menerapkan pengambilan keputusan dalam situasi dilema etika sebelum mempelajari modul ini dengan situasi dilema etika. Namun Pengambilan keputusan yang saya lakukan tidak sesuai dengan berpihak pada murid, dimana saya lebih terbawa perasaan (rasa kasihan). Dan saya juga belum menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan keputusan . Sehingga dalam pengambilan keputusan yang saya lakukan jauh berbeda dengan konsep yang saya pelajari pada modul 3.1 ini. Setelah saya mempelajari modul ini dalam pengambilan keputusan kita perlu memperhatikan  4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan yang berpihak pada murid.

 

·       Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dengan mempelajari modul 3.1 ini, saya sebagai guru dan pemimpin pembelajaran merasa lebih memahami dalam mengambil keputusan yang bijak sesuai dengan masalah dilema etika atau bujukan moral. Dengan berpedoma pada 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan, sehingga keputusan yang diambil bisa dipertanggungjawabkan serta tidak merugikan pihak lain. Selain itu, saya harus memiliki keterampilan dan kecakapan dalam mengambil keputusan sesuai dengan nilai-nilai kebajikan dan mampu melakukan tahapan-tahapan pengambilan keputusan yang tepat serta melibatkan pihak-pihak yang berwewenang dalam pengambilan keputusan.

 

·       Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Sangat penting. Hal ini dikarenakan modul 3.1 ini sangat membantu saya dalam langkah pengambilan keputusan pada kasus dilema etika. Secara individu sebagai guru ataupun sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah, kini saya dapat membuat keputusan yang benar dan efektif serta menghindari pengambilan keputusan yang tidak tepat dan dapat merugikan orang banyak. Sebelum saya mendapat pengetahuan tentang pengambilan keputusan, saya merasa bahwa keputusan yang saya buat tidak didasarkan pada prinsip dan langkah pengambilan keputusan. Sekarang saya bisa membedakan dan memutuskan kasus baik dilema etika dan bujukan moral dengan menggunakan sembilan langkah pengambilan keputusan. Saya akan segera mengimplementasikan keterampilan membuat keputusan sesuai modul 3.1 dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dilingkungan sekolah saya dimana keputusan yang dibuat harus berbasis nilai-nilai kebaijkan yang berpihak pada murid.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin