Koneksi
Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebijakan Sebagai
Pemimpin
Oleh:
Charles
Tujuan Pembelajaran
Khusus:
1.
CGP
membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan
beraneka cara dan media.
2.
CGP
dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari
pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan
keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk
memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.
Berikut
ini Koneksi Antar materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai
kebajikan sebagai Pemimpin
· Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan
Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan
sebagai seorang pemimpin?
Patrap
Triloka merupakan semboyan dikemukan Ki Hadjar Dewantara yang berbunyi,
"Ing ngarso sung tulodho. Ing madyo mangun karso. Tut wuri handayani"
Semboyan ini berasal dari bahasa jawa yang memiliki makna filosofis sebagai
pedoman bagi guru ketika mengajar. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia,
maknanya kurang lebih, "Di depan, seorang guru harus bisa menjadi teladan.
Di tengah, seorang guru harus bisa memberikan ide. Di belakang, seorang guru harus
bisa memberikan dorongan". Patrap Triloka ini sangat berpegaruh bagi guru
saat mengambil keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Ing
ngarso sung tulodho berarti setiap keputusan yang diambil oleh guru
haruslah mampu diteladani oleh peserta didik, sehingga ketika guru membuat
sebuah keputusan ia harus yakin keputusan yang ia buat tidak berdampak buruk
bagi muridnya. Keputusan yang diambil harus mampu menjadi acuan bagi peserta
didik andai mereka mengalami hal yang serupa pada kehidupan peribadinya.
Sekolah adalah 'institusi moral' yang dirancang untuk membentuk karakter para
warganya. Seorang pemimpin di sekolah tersebut akan menghadapi situasi di mana
mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan
berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar.
Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang
dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan
bagi seluruh warga sekolah. Ing madyo mangun karso maksudnya
adalah keputusan yang diambil oleh guru harus mampu menginspirasi bagi peserta
didik. Dan Tut wuri handayani berarti keputusan yang diambil
oleh peserta didik harus mampu menjadi motivasi peserta didik agar menjadi
lebih baik. Dengan adanya pratap triloka ini seorang guru kembali disadarkan
betapa pentingnya posisinya dimata peserta didik. Setiap keputusan yang di buat
guru harus berdampak secara langsung kepada murid. Guru harus memahami konsep
dasar pengambilan keputusan agar tidak salah dalam mengambil keputusan jangan
sampai karena keputusan yang tidak tepat sehingga menjadi kesalahan yang
berkepanjangan. Seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu mengidentifikasi
dan menganalisis kasus yang dihadapi apakah bujukan moral atau dilema etika.
Bujukan moral adalah benar lawan salah sedangkan dilema etika adalah benar
lawan benar. Kasus dilema etika harus mampu dianalisis berdasarkan 3 prinsip
yaitu berpikir hasil akhir (end-based
thinking), berbasis peraturan (rule-based thinking) dan berbasis rasa peduli
(care-based thinking), 4 paradigma yaitu Individu lawan masyarakat (individual
vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan
kesetiaan (truth vs loyalty) dan jangka pendek lawan jangka panjang (short term
vs long term). Lalu yang terakhir melalui 9 langkah pengujian dan pengambilan
keputusan yaitu, mengenali nilai-nilai yang bertentangan, menentukan siapa yang
terlibat, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan, pengujian benar atau salah,
pengujian paradigma benar lawan benar, melakukan prinsip resolusi, investigasi
opsi trilema, buat keputusan lalu refleksikan. Pengambilan keputusan yang tepat
akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusid dan aman bagi
murid.
· Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita,
berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu
keputusan?
Keputusan yang
kita ambil sebagai seorang pemimpin/guru tentu harus mempertimbangkan
nilai-nilai kebajikan yang ada dalam diri. Pengambilan keputusan yang tepat
dapat menumbuhkan dan membangun motivasi murid untuk tumbuh dan berkembang.
Sebagai guru juga memberikan dukungan penuh terhadap usaha murid untuk terus
menjadi lebih baik sebagai makhluk yang bermanfaat bagi orang lain. Guru harus
memiliki kecakapan agar dapat menciptakan lingkungan yang positif, kondusif,
dan aman serta keterampilan mengelola emosi dan melakukan coaching. Keputusan
yang diambil oleh guru harus arif dan bijaksana yang berpihak pada murid.
Sebagai guru tentu kita sering menemukan murid yang bermasalah di kelas,
kemampuan menjadi seorang coach akan sangat dibutuhkan dalam hal ini,
guru dapat berperan sebagai motivator dan memberi dukungan penuh atas keputusan
yang diambil murid.
· Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan
kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau
fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian
pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan
tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas
pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh
sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.
Setelah
saya mempelajari eksplorasi konsep dan ruang kolaborasi serta elaborasi
pemahaman pada modul 3.1 dengan fasilitator dan instruktur semakin menambah
wawasan saya tentang materi pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai
kebajikan sebagai pemimpin dan pengujian keputusan. Yang jadi pertanyaan saya
adalah apakah tantangan yang dihadapi untuk pengambilan keputusan terhadap
kasus pada dilema etika bisa saya laksanakan dengan tepat dengan berdasarkan
pada nilai-nilai kebenaran, berpihak pada murid dan bertanggung jawab. Tetapi
saya yakin dan percaya dengan keputusan yang diambil tetap harus mampu menjadi
pengajaran yang memerdekakan. Meskipun setiap keputusan yang diambil harus
mampu membuat dampak bagi peserta didik, sehingga mampu menciptakan sesuatu
yang juga berdampak baik pada kehidupannya, dan lingkungannya. Sebelum
mengambil keputusan tentu kita melakukan studi kasus dengan menggunakan metode coaching.
Salah satu model coaching adalah model TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana
aksi, dan Tanggung jawab). Model coaching ini, dapat digunakan seorang
guru dalam menuntun murid menemukan potensi yang dimilikinya. Hal ini dapat
memanfaat cara komunikasi positif melalui pertanyaan yang reflektif, dimana
akan menstimulasi murid melakukan metakognisi. Pertanyaan-pertanyaan dalam
proses coaching juga harus mampu mengali potensi murid untuk berpikir
secara kritis dan mendalam. Sehingga, murid dapat mengembangkan potensinya
secara optimal dan mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Melalui
coaching keputusan yang telah diambil dapat dikaji dengan merefleksi kembali
apa yang sudah diputuskan, karena keputusan yang diambil sebagai pemimpin
pembelajaran akan mempengaruhi keberhasilan masa depan murid.
· Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari
aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan
khususnya masalah dilema etika?
Guru harus memiliki kemampuan dalam mengelola dan
menyadari sosial emosional yang sangat mempengaruhi pengambilan keputusan.
Dalam mengambil keputusan kita sebagai guru jangan sampai emosional, namun harus
menyadari eputusan wajib berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan, berpihak
kepada murid dan bertanggung jawab. Sebagai guru kita dapat membedakan dilema
etika atau bujukan moral. Pengelolaan sosial emosional akan menumbuhkan rasa empati
dan simpati bagi seorang guru. Dengan simpati dan empati kita dapat merasakan
apa yang peserta didik alami, dan kita dapat mengidentifikasi permasalahan
dengan bijaksana, sehingga dalam pengambilan keputusan kita dapat menggiring
murid menciptakan inovasi dan kreatif sebagai alternatif solusi dalam setiap
pengambilan keputusan. Dimana keputusan yang diambil menggunakan 4 paradigma
dilema etika yaitu individu lawan masyarakat, rasa keadilan lawan rasa kasihan,
kebenaran lawan kesetiaan dan jangka pendek lawan jangka panjang. Pengambilan
keputusan juga berpegang pada 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu prinsip berpikir
berbasis hasil akhir (end-based thinking), prinsip berpikir berbasis peraturan (rule-based thinking), dan prinsip
berbasis rasa peduli (care-based thinking) serta dengan 9 langkah pengambilan
dan pengujian keputusan.
· Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah
moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Dalam
kenyataan bahwa kita tidak akan terlepas dari masalah, entah itu dilema etika
maupun bujukan moral. Terlebih kehidupan di lingkungan sekolah, karena
berhadapan dengan orang banyak dan dari latar belakang yang beragam. Seorang
guru memerlukan keterampilan dalam menjalin hubungan sosial dan mengambil
sebuah keputusan. Melalui pendidikan guru penggerak ini saya bisa belajar ilmu
tentang bagaimana mengambil keputusan yang tepat. Oleh karena itu, ketika saya
harus menghadapi masalah dan diminta mengambil suatu keputusan, saya menerapak 4 paradigma pengambilan keputusa , 3 prinsip
pemgambilan keputusan dan 9 langkah
pengambilan pengujian keputusan. Saya akan mengidentifikasikan dan menganalisis
nilai-nilai kebajikan mana yang bertentangan, kemudian menelususri siapa yang
terlibat, serta akan melakukan pengujian benar lawan salah, benar lawan benar,
melakukan prinsip resolusi dengan menggunakan 3 prinsip pengambilan keputusan,
akan menginvestigasi apakah unsur opsi trilema, baru mengambil keputusan, dan
yang terakhir mengujinya dengan melihat lagi dan merefleksi keputusan yang
diambil.
· Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya
berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Sebagai
seorang guru akan selalu bersentuhan dengan pengambilan keputusan, suka atau
tidak suka. Sebuah pengambilan keputusan diharapkan mampu membuat kondisi lingkungan
yang positif, aman, nyaman, dan kondusif. Pengambilan keputusan yang tepat
tentu pedoman 9 langkah pengambilan pengujian keputusan dan sesuai instrumen
pengambilan keputusan yang berdampak pada murid di sekolah. Langkah pertama,
guru harus dapat membedakan apakah kasus yang dihadapi merupakan dilema etika
atau bujukan moral. Jika dilema etika, maka dilakukan pengujian selanjutnya,
agar sampai pada pengambilan dan pengujian keputusan yang telah diambil. Kemudian
insturmen yang harus dipegang dalam mengambil keputusan adalah sembilan langkah
dalam pengambilan dan pengujian keputusan, dimana didalamnya terkandung
nilai-nilai universal, 4 paradigma pengambilan keputusan, serta 3 prinsip
pengambilan keputusan. Sehingga pada akhirnya peran guru sebgaai pemimpin
pembelajaran akan mampu menciptakan lingkungan positif, kondusif, aman, dan
nyaman untuk murid.
· Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk
dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini?
Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Setiap orang pasti akan menemui masalah dalam kehidupannya.
Guru salah satunya peran yang menemui masalah dalam kehidupannya baik masalah
pribadi maupun masalah dalam lingkungan rumah atau sekolah. Setiap guru pasti
akan berbeda dalam menangani masalahnya, dimana guru satu dengan yang lainnya
akan berbeda dalam memandang masalah yang dihadapi, tergantung bagaiamana
mengatasi masalah yang dihadapinya. Dalam pengambilan keputusan yang dapat
dipertanggung jawabkan, serta berpihak pada murid. Tentu keterampilan
menganalisis setiap kasus yang dialami akan berpengaruh dengan pengambilan
keputusan terhadap kasus yang dihadapi. Guru sebagai pemimpin pembelajaran
tidak boleh mengambil keputusan tanpa memperhatikan data-data yang valid, karena
dapat mengakibatkan pengambilan keputusan yang salah. Guru harus mampu
membedakan apakah bernilai benar lawan benar atau bernilai benar lawan salah
(sebuah dilema etika atau bujukan moral). Pengambilan keputusan harus dilakukan
jika kasus merupakan dilema etika, tentu dengan berpegang teguh pada instrumen
yang benar. Pengambilan keputusan terkadang sulit dilakukan karena terbentur
dengan perubahan paradigma atau budaya yang berlaku di lingkungan sekolah. Pengambilan
keputusan harus dengan kehati-hatian karena melibatkan banyak pihak/ pihak yang
terlibat. Diisadari atau tidak sebuah keputuasn tidak dapat mengakomodir
kepentingan semuanya, bahkan mungkin akan merugikan pihak tertentu. Pengetahuan
dan keterampilan dalam pengambilan keputusan yang berpihak pada murid belum
secara maksimal karena minimnya kemampuan akan mempengaruhi keputusan yang
akan diambil.
· Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini
dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana
kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang
berbeda-beda?
Filosofi
Pemikiran Kihajar Dewantara menitik beratkan kepada menghamba pada anak.
Sehingga anak diberikan kemerdekaan dalam proses belajarnya, kita sebagai
pendidik bertugas untuk menuntun dan memuliakan murid. Perubahan paradigma
tentang pendidikan yang memuliakan murid tentu mempengaruhi pola pengajaran di
kelas. Guru selama ini menuntut terlalu banyak karena tuntutan dari kurikulum
yang luas, akan berubah menjadi menuntun murid dalam mengambil perannya di
kelas. Merdeka belajar intinya belajar yang berpihak pada murid, yang
memperhatikan kebutuhan belajar murid. Oleh karena itu, keputusan yang diambil
sesuai dengan filosofi tersebut mengisyaratkan menemani murid sesuai kemampuan
atau kodrat alam maupun zamannya. Kehadiran guru di dalam kelas, mengajak murid
menyadari potensinya, menambah kepercayaan dirinya, menjadi temannya, serta
menggali potensi terbaiknya. Murid berani mengemukakan pendapatnya, mendesain
tugas projek sesuai bakatnya, mengambil peran aktif di kelas, serta mampu
mengambil keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan. Sehingga, tujuan yang
ingin dicapai yaitu keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya akan
dapat terwujud.
· Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil
keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat memberikan
pembelajaran yang sesuai denga kebutuhan belajarnya dan menuntun murid dalam
mengembangkan potensi yang dimiliki. Dalam pengambilan keputusan sebagai
pemimpin pembelajaran harus berpihak pada murid, Bagaimana seoarng guru harus
memperhatikan apa yang dibutuhkan murid. Suatu keputusan yang kita ambil sudah
mempertimbangkan kebutuhan murid maka dapat dipastikan murid mampu menggali
potensi yang ada dalam dirinya. Apabila keputusan yang diambil berpihak pada
murid, memperhatikan kebutuhan murid, akan dapat menambah rasa percaya diri
murid, ketenangan batin murid dalam menuntut ilmu, dan pada akhirnya akan
berhasil menghadapi setiap tantangan di masa depannya, tidak mudah menyerah,
bijaksana, serta menemukan kesuksesan yang dapat bermanfaat bagi orang banyak.
· Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari
pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Banyak hal yang dapat dipelajari pada modul 3.1 tentang
pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Saya belajar tentang cara
- cara pengambilan keputusan yang tepat. Dimana keputusan yang diambil berpihak
pada murid, bertanggung jawab yang sesuai dengan nilai – nilai kebajikan
universal. Dalam pengambilan keputusan harus memperhatikan 4 paradigma
pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah
pengambilan keputusan. Dalam menghadapi masalah jangan terburu buru dalam
memutuskannya hendaknya diperlukan kesadaran penuh (mindfulness), agar dapat
berpikir jernih dan mengkaji berbagai sudut yang dapat dipertimbangkan sesuai
dengan nilai-nilai kebajikan universal. Keterampilan coaching dan
kecerdasan emosional akan sangat menunjang keberhasilan mengatasi masalah yang
dihadapi, sehingga keputusan yang diambil akan dapat dipertanggung jawabkan. Keterampilan dalam mencermati masalah, menganalisis
kasus jangan sampai terjebak dengan bujukan moral, dan harus teliti dalam
menentukan langkah pengambilan keputusan dari berbagai situasi dan kondisi yang
ditemui. Hal ini esuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara yang selaku guru
dapat menuntun murid sesuai kodratnya masing-masing agar mereka mencapai
keselamatan yang setinggi-tingginya. Kesimpulan yang didapat dari pembelajaran
modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah : Pengambilan
keputusan adalah suatu keterampilan atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan
harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai
pemimpin pembelajaran. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif
dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif,
kondusif, aman dan nyaman (well being). Dalam pengambilan keputusan seorang
guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya
menuju profil pelajar pancasila. Dalam perjalanannya menuju profil pelajar
pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan
panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan
dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi
terwujudnya merdeka belajar.
· Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang
telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4
paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar
dugaan?
Pemahaman
saya dari modul 3.1 ini adalah Ada 4 paradigma pengambilan keputusan Individu
lawan masyarakat, kebenaran lawan kesetiaan, keadilan lawan belas kasihan, dan Jangka
Pendek lawan jangka panjang. Ada 3 prinsip mengambil keputusan berfikir
berbasis hasil akhir (end-based thinking), berfikir berbasi aturan (rule-based thinking),
dan berfikir berbasis rasa peduli (care-base thinking) serta 9 tahapaan
pengambilan dan pengujian keputusan. Yaitu Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang
saling bertentangan, menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, Mengumpulkan
fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini, Pengujian benar atau salah (uji
legal, uji regulias, uji instuisi, uji publikasi, uji panutan/idola) Pengujian
paradigma benar atau salah, Prinsip pengambilan keputusan, Investigasi tri lema,
Buat keputusan meninjau kembali keputusan dan refleksikan Hal-hal yang menurut
saya diluar dugaan adalah ternyata dalam pengambilan keputusan bukan hanya
berdasarkan sesuai pemikiran saja namun perlu melihat 4 paradigma, 3 prinsip
dan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Selama ini saya
berpikir terlalu cepat dalam mengambil keputusan, sehingga keputusan yang
diambil tidak merugikan pihak lain dan serta membuat kondisi lingkungan yang
positif, aman, nyaman dan komdusif yang berpihak pada muird.
· Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan
pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana
pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Saya
pernah menerapkan pengambilan keputusan dalam situasi dilema etika sebelum
mempelajari modul ini dengan situasi dilema etika. Namun Pengambilan keputusan
yang saya lakukan tidak sesuai dengan berpihak pada murid, dimana saya lebih
terbawa perasaan (rasa kasihan). Dan saya juga belum menerapkan 4 paradigma
pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah
pengambilan keputusan . Sehingga dalam pengambilan keputusan yang saya lakukan
jauh berbeda dengan konsep yang saya pelajari pada modul 3.1 ini. Setelah saya
mempelajari modul ini dalam pengambilan keputusan kita perlu memperhatikan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan
keputusan dan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan berbasis
nilai-nilai kebajikan yang berpihak pada murid.
· Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda,
perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan
sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Dengan
mempelajari modul 3.1 ini, saya sebagai guru dan pemimpin pembelajaran merasa
lebih memahami dalam mengambil keputusan yang bijak sesuai dengan masalah
dilema etika atau bujukan moral. Dengan berpedoma pada 4 paradigma, 3 prinsip,
dan 9 langkah pengambilan keputusan, sehingga keputusan yang diambil bisa
dipertanggungjawabkan serta tidak merugikan pihak lain. Selain itu, saya harus
memiliki keterampilan dan kecakapan dalam mengambil keputusan sesuai dengan
nilai-nilai kebajikan dan mampu melakukan tahapan-tahapan pengambilan keputusan
yang tepat serta melibatkan pihak-pihak yang berwewenang dalam pengambilan
keputusan.
· Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai
seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Sangat
penting. Hal ini dikarenakan modul 3.1 ini sangat membantu saya dalam langkah pengambilan
keputusan pada kasus dilema etika. Secara individu sebagai guru ataupun sebagai
pemimpin pembelajaran di sekolah, kini saya dapat membuat keputusan yang benar
dan efektif serta menghindari pengambilan keputusan yang tidak tepat dan dapat merugikan
orang banyak. Sebelum saya mendapat pengetahuan tentang pengambilan keputusan,
saya merasa bahwa keputusan yang saya buat tidak didasarkan pada prinsip dan
langkah pengambilan keputusan. Sekarang saya bisa membedakan dan memutuskan
kasus baik dilema etika dan bujukan moral dengan menggunakan sembilan langkah
pengambilan keputusan. Saya akan segera mengimplementasikan keterampilan
membuat keputusan sesuai modul 3.1 dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dilingkungan
sekolah saya dimana keputusan yang dibuat harus berbasis nilai-nilai kebaijkan
yang berpihak pada murid.
Komentar
Posting Komentar